Beraneka ragam motif parang dan artinya
Saat ini penggunaan batik sudah tak lagi menjadi hal yang kuno dan dapat dijumpai dengan mudah setiap harinya tak lagi hanya hari Jumat dan hari–hari khusus lainnya. Berbagai macam model dari batik pun telah berkembang luas di masyarakat.
Batik Parang merupakan salah satu motif batik yang paling tua di Indonesia. Parang berasal dari kata Pereng yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.
Batik ini merupakan batik asli Indonesia yang sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo) dan dulunya hanya bisa dipakai oleh raja, penguasa, dan ksatria.
Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tidak pernah padam.
Sebagai salah satu motif batik dasar yang paling tua Batik Parang ini memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik Parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.
Garis diagonal lurus melambangkan penghormatan dan cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai yang sebenarnya. Dinamika dalam pola parang ini juga disebut ketangkasan, kewaspadaan, dan kontituinitas antara pekerja dengan pekerja lain.
Jenis Batik Parang dan Artinya
Saat ini Batik Parang telah mengalami perkembangan dan muncul dalam berbagai motif yang berbeda namun tetap mencirikan motif batik parang. Beberapa jenis – jenis Batik Parang tersebut yaitu:
1. Motif Parang Rusak Barong
Motif batik parang rusak
barong ini berasal dari kata batu karang dan barong (singa). Parang barong
merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan
filosofinya, motif ini hanya boleh digunakan untuk raja, terutama dikenakan
pada saat ritual keagamaan dan meditasi.
Kata barong berarti sesuatu yang besar dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain.
Motif parang rusak barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.
2. Parang Klitik.
Motif ini merupakan pola
parang dengan stilasi yang halus. Ukurannya pun lebih kecil dan juga
menggambarkan citra feminim, Motif ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku
halus dan bijaksana. Biasanya digunakan oleh para puteri raja.
3. Parang Slobog.
4. Parang Kusuma
Motif Parang Kusuma mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin, yang diibaratkan sebagai keharuman bunga (kusuma).
Bagi orang Jawa, hidup di masyarakat yang paling utama dicari adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin. Walaupun sulit untuk direalisasikan, namun umumnya orang Jawa berharap bisa menemukan hidup yang sempurna lahir batin.
Sumber informasi dan sumber gambar:
www.lianrohima.wordpress.com
www.wikipedia.org
www.fimela.com
Seni Rupa Terapan Batik Indonesia
www.wikipedia.org
www.fimela.com
Seni Rupa Terapan Batik Indonesia






Posting Komentar